Kamis, 29 Januari 2015

Bintang laut

Hari yang cerah untuk menikmati pantai Suluban, dengan bikini hijau kesayangan. Nanasik dengan antusias yang selalu sama, memaksaku "menikmati" hangatnya pasir putih dipipi yang tidak beralaskan kain pantai.

Dengkuran halus disampingku yang keluar dari tubuh mungil nanasik seperti lullaby yang mengantarkanku pada ayunan imajiner yang mulai mengayun lembut dibenakku.

Tidak mau terlalu lama membiarkan Nanasik dalam lelap, aku menariknya kedalam genangan air laut yang terperangkap diantara karang-karang yang membentuk jacuzzi alami favorite kami.
Nanasik sibuk mengumpulkan karang-karang berbagai bentuk. Bentuk hati.. Bentuk kaki atau apapun itu yang bisa diterima imajinasinya sedangkan sibuk mengumpulkan rumput laut yang aku percaya akan menjadi ramuan awet mudaku.

Detik berubah menit, menit berubah jam.. Kita tetap sibuk dengan imajinasi masing-masing. Tanpa ada yang mau mengatakan "hari ini selesai".

Ombak mulai berlomba menuju pantai dan siap menutup lubang kecil akses satu-satunya keluar masuk surga kecil ini. Tidak ada pilihan lain selain secepetnya memasuki lubang kecil ini menuju lorong karang yang terbentuk indah menuju sisi lain pantai ini.
Ramai..
Bukan.. Bukan karena aku introvert hanya saja tanganku penuh dengan rumput laut.
Nanasik menarikku kedalam deburan ombak. Berenang sedikit lebih jauh untuk menghindari terpaan ombak dan disinilah kita menikmati hari berdua seperti biasanya.
Aku tidak mau kehilangan "ramuan ajaib awet muda"-ku. Ku kalungkan rumput laut di leherku, menari-nari dan tertawa lepas bersama Nanasik.
Disini pulalah, aku menemukan bintang laut ajaib. Bintang laut yang ramah yang mau terombang-ambing bersama kami didalam ombak.
Bintang laut ini sekarang menjadi "jimat sakti"-ku yang aku bawa kemanapun aku pergi, bintang laut ini membawa kebahagiaan untukku. Indah.. Lembut.. Menyenangkan..
Aku menyukainya


Tidak ada komentar:

Posting Komentar