Senin, 07 April 2014

Titik Nol

Setelah sekian lama, ku menginjakan kaki ini lagi pada sebuah jalan setapak bertembok yang dulu hanya jalan setapak tanah merah yang sering licin saat hujan datang, begitu banyak perubahan hanya dalam waktu yang tak begitu lama. Ku seret sepatu karet warna ungu yang mulai pudar dengan cahaya temeram dibawah pohon mangga yang bersanding dengan pohon petai cina disebelah kanan jalan yang nampak masih kokoh seperti 11 tahun lalu, tas ransel besar dipundak yang bebannya melebihi kapasitas ditutup cover bag hitam lusuh menambah lambat perjalananku menuju ujung jalan ini.

Bakteri  Actinomycetes  yang mengeluarkan aroma khas setelah hujan menyeruak menyapaku, mengucapkan selamat datang pada seorang wanita yang mengalami kekalahan besar dalam hidupnya. 

Bangunan persis didepan belokan jalan ini dengan pagar hijau pendek yang sudah mulai pudar dimakan usia masih sama seperti saat terakhir kali aku meninggalkannya. Kutarik ujung pagar dan berusaha menyeretnya kesebelah kanan menimbulkan decitan besi tua di malam sunyi ini.

Kamar-kamar bercat hijau sama dengan pagar berjejer rapi menyambutku, sebuah kamar diujung deretan yang menghadap pagar dengan lemari putih hasil modifikasi yang kukerjakan beberapa tahun lalu masih terpajang didepannya berdampingan dengan rak sepatu warna pink yang dipenuhi koleksi sepatu lamaku.

Dengan tak sabar ku paksakan membuka kunci kamar dengan tas berat besar yang masih menempel dipundak, dalam hitungan detik kamar bercat putih dengan ornament polkadot berwarna hijau dan biru, kasur beralaskan sprei warna pink dengan boneka-boneka tua diatasnya, lemari cokelat muda yang dipenuhi koleksi buku-buku, chest freezer biru kosong yang saat dinyalakan mengeluarkan suara mendengung halus yang mengantarkanku pada lelap disetiap malam dikamar ini, loker warna-warni yang diatasnya kusimpan dua buah dus besar berisi kain flannel warna-warni dan satu set komputer usang menyapaku hangat.

Malam ini, setelah kecelakaan kereta yang mengharuskan aku menggunakan bis dari Tasikmalaya menuju Bandung dan terpaksa berhenti di Cileunyi yang lebih dekat dengan kamarku ini dibanding rumah orang tua, dan akhirnya memutuskan untuk beristirahat dikamar kesayangan ini. 

Kutarik nafas panjang, membayangkan esok hari untuk mengucapkan selamat tinggal selamanya pada orang-orang ditempat ini membuat dada sesak, air mata yang mengalir deras diiringi dengungan chest freezer mengantarkanku pada ayunan sebelum tidur sebelum akhirnya tertidur pulas.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar