Sabtu, 12 April 2014

Tarian kilat

Hujan sore ini tumpah dari langit abu-abu yang selalu ku benci, dan membuat depresi.
Sudah seminggu ini aku pulang ke Bandung, namun tak juga aku punya keberanian menemui orang tuaku.
Coming home-P. Diddy dirty money yang di cover ulang oleh boyce avenue melantun berulang seakan mengingatkanku untuk mengakui semua kekalahan.
Semua benda mati ini, dikamar yang gelap dengan tirai hitam merah yang hanya memberikan sedikit cahaya mengintip menertawakanku, kode html template blog yang tak juga aku benahi menatap kosong dilayar laptop hitam bertumpuk dengan photoshop dengan hasil edit yang kacau dan sony vegas yang terus terbuka dari tadi malam tanpa menghasilkan apapun selain panas harddrive dan dengungan kipas laptop.
Kesanggupanku hanya menghasilkan dua artikel dalam blog perjalanan itupun remake dari artikel lama.
kubuka logo hijau bulat whatsapp, memainkan ibu jari merandom isi kontak dan mengirim acak gambar pada kontak terpilih. Tutup
Kubuka logo bulat bola dunia, browser automatic direct ke halaman facebook yang sengaja tidak aku install app-nya di app store. Semua home berisi page berita dan gambar destinasi dari news page dan travel page. Kulihat notifikasi yang berisi lebih banyak message. Tidak ada yang penting. Tutup
Gambar-gambar hasil coretan tangan ku menggunakan pensil 3b dan 2h menunggu kurobek, gambar abstrak yang tidak berseni pun tidak mengobati apa-apa.
Hujan semakin deras,  tarian kilat yang diiringi genderang bergemuruh riang diluar sana.
Aku rindu keluargaku, tinggal satu langkah namun seakan aku membeku pada pijakan es yang menjalar naik dari lantai kekakiku hingga ke betis.
Aku tahu, tidak akan ada pelukan tidak akan ada ucapan selamat datang, tidak juga senyuman di wajahnya. Tapi aku yakin.. Diapun merasakan apa yang aku rasakan saat ini.


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar