Senin, 21 April 2014

Katakan halo dan tendang


Jutaan ton batu seperti bergelayut dikaki kurus seorang gadis 8 tahun yang berusaha tetap menapak pada sisi kanan dan kiri sebuah lubang dalam dan gelap berdiameter kurang dari setengah meter dengan permukaan semen bercampur batu runcing yang mulai basah disapa rintik hujan dari langit abu-abu yang mulai beranjak gelap.

Sandal jepit hitam sebelah kanan berbahan karet yang tadi menolongnya untuk mendapakan pijakan pada garis batas dinding terakhir yang sedikit menonjol dan menandakan batas 3 meter lubang berdinding campuran semen kasar  dan batu runcing dengan belasan kilometer lain yang berdinding tanah dan terlihat terus mengerucut kebawah, gadis kecil itu menunggu sepersekian detik hingga akhirnya terdengar suara hantaman sandal pada permukaan air dibawah sana yang menimbulkan gema dan menyisakan kengerian diantara campuran udara hangat serta pengap dari bawah sana dan sedikit angin yang diiringi titik hujan dari atas yang sedikit memberi oksigen dan kekuatan untuk terus bertahan.

Tangannya tak sempat menyeka keringat yang terus mengucur, matanya lupa mengeluarkan air mata, dan pita suaranya tidak tahu cara mengeluarkan suara nyaring, jangankan berteriak meminta tolong, untuk sekedar mengeluarkan suara bernada rendah-pun tidak sanggup. Hanya sedikit erangan kecil yang tercekat dikerongkongan sesekali terdengar dan suara napas pendek yang saling memburu.

Matanya berputar liar, pandangannya tertuju pada bulatan langit  diatas sana yang sedikit terang dibingkai kegelapan. Dia tahu, sebelum mencapai lingkaran itu dia harus melewati garis batas lain, garis batas yang menandakan dia akan pulang kerumah dengan selamat, garis batas yang tadi tertutup papan kayu lapuk dan membuat sumur ini terlihat hanya sebagai lubang bersemen sedalam satu setengah meter dengan kayu lapuk dibagian dasarnya meskipun tali tambang besar berbalut bahan plastik putih pudar terjulur tanpa ember serta terikat pada badan pohon jambu yang tumbuh disisi lubang tidak membuat gadis 8 tahun ini berpikir sebelum melompat, dia hanya berpikir akan melompati bak air bekas penuh dengan sampah untuk mengambil jamurnya yang terjatuh dan mengumpulkan jamur lain yang tercecer lalu pulang dengan satu kantong jamur dan udang sungai yang dia dapatkan didekat petakan sawah yang dia lewati.

Batu-batu runcing yang harus dia lewati menuju garis batas selanjutnya ini adalah harapan sekaligus siksaan baginya. Jari-jari kaki kecilnya menelusur merasakan satu persatu guna mencari batu yang berpotensi untuk dijadikan pijakan selanjutnya, seluruh kekuatannya terfokus pada kedua tangan dan mempercayakan tumpuan pada kaki lainnya.
Gadis kecil ini bersorak dalam hati ketika kaki kirinya menemukan tonjolan batu lain yang sedikit pantas dipijak dan dia bersiap menyentakan badan dan kedua tangannya bersamaan untuk langkah selanjutnya .

Uugghh.... kaki kirinya salah.. batu yang di pilih terlalu kecil dan licin untuk menjadi pijakan selanjutnya. Detik selajutnya tangannya bergerak liar mencari sesuatu yang bisa dipegang, kakinya terbuka lebar berusaha memijakan kembali pada kedua sisi dinding lubang, wajahnya merasakan udara bergesekan dengan kulit legam dan basah kuyup.
"---------------------------------------------------------------------------"pikirannya begitu kosong.. Begitu hambar...
Inikah detik-detik kematian itu?
DUB!

Kedua kakinya tersangkut kembali pada garis batas tadi, menyentak dan begitu tiba-tiba, garis batas ini memberikan waktu yang cukup pada tangan dan kaki mengumpulkan kekuatan untuk menekan kesegala penjuru, menahan berat tubuh dan...

Aarrgghhh..
Pergelangan kaki kirinya, serta sambungan tulang paha dan pinggulnya seperti ditikam disusul  suara mendengung hebat ditelinga, rasa nyeri teramat sangat yang kemudian ditemani denyutan aliran darah yang berirama konstan seperti detak jarum jam dinding di ruang tamu nenek.
Air hujan bercampur keringat mengalir melewati bibirnya yang terbuka, sesekali dia merasakan rasa asin dilidahnya yang kemudian tertelan bersamaan dengan tarikan nafas pendek yang tersekat.
Ini adalah kesembilan kalinya dia gagal merayap naik sumur kecil yang sudah tidak terpakai ditengah kebun rumput luas yang berada disebuah lembah dan jarang dilewati orang, hanya sesekali peternak kambing atau sapi rumahan yang datang memotong rumput untuk peliharaan mereka, itupun disiang hari bukan sore hari dengan hujan seperti saat ini.

Kegagalan kesembilan ini, membuat kaki kiri dan tangan kanannya terkilir serta menambah parah luka diujung jari-jari tangannya hingga melepaskan sebagian kukunya.
Rasa hangat memeluknya dari bawah sana, hangat dan bau amis serta bau lumut yang menyatu dan terasa semakin dekat, tidak sedikitpun dia mencoba melihat kebawah, yang dia lihat hanya lingkaran langit terang yang semakin gelap dan jauh dari pandangan.


Suara adzan Ashar terdengar jelas namun begitu jauh, suara yang terbiasa dia dengarkan 5 kali sehari, membuatnya hafal diluar kepala setiap kata demi kata.

...aku disini...
Lirihnya pelan.. Suara yang terdengar biasa, yang saat ini terasa berbeda untuknya.
Suara manusia lain..
Kaki kirinya dipaksakan menjadi tumpuan, kaki kanannya mulai mencari pijakan baru dari awal lagi dan tangannya membantu meringankan beban kaki kirinya. Denyutan dikakinya terasa melemah, hanya rasa pegal yang teramat sangat yang sekarang dia rasakan.

Saat kaki kirinya mendapat bagian mencari pijakan baru, itu adalah bagian ter-absurd yang pernah dirasakannya, kaki kirinya seakan berkulit tebal seperti badak, tak dirasakannya dingin atau hangat, kakinya pun tak dapat membedakan mana tonjolan dan mana bukan. Saat ini "insting ingin hidup"-nya lah yang sanggup memaksa tubuhnya terus bergerak merayap melebihi batas normal yang sanggup dia bayangkan.
Bergantian kakinya mencari pijakan, merayap naik dari kegelapan, memburu suara muadzin yang sedang melantunkan satu kalimat terakhir.

Adzan memang berakhir, tapi doa setelah adzan yang dibacakan menggunakan load speaker dan suara riuh anak kecil yang biasa mengaji setelah sholat Ashar di Masjid tetap menemaninya pada setiap pijakan demi pijakan.
Batu-batu runcing itu sudah berkurang, berganti dominasi semen kasar yang basah disiram hujan kecil yang tak berhenti, beberapa menit yang lalu tangannya bekerja keras mengangkat tubuh lelahnya menaiki garis batas dinding lain yang semakin dekat dengan permukaan lubang.
Sapaan angin mengiringi riuh anak-anak kecil mengaji di dalam masjid, ..aku disini...

Tali tambang besar yang sebelumnya terlihat menjulur sekarang terlihat menggantung pada badan pohon jambu yang tadi siang hanya dia lihat sepintas sebelum melompat, sekarang menjadi harapan satu-satunya.

"..aku kurus..aku kecil..."

Entah siapa dan entah apa maksud dari orang yang mengikatkan tambang putih ini, yang terpikir dalam benaknya hanya bagaimana cara meraihnya tanpa meleset sedikit-pun sebelum suara adzan Maghrib terdengar dan anak-anak selesai mengaji.
Jika dia gagal, maka dia akan sendirian.. tanpa suara manusia... tanpa cahaya..tanpa kekuatan.
Dalam satu hitungan yang entah siapa yang menghitung, dia meraih tambang putih sambil menutup mata rapat-rapat. 

...basahh.. Licin...
Tak terpikirkan sebelumnya "rasa" tambang ini. Pikiran dan matanya terlalu sibuk mengunci posisi tambang untuk diraih, kini setelah bergelantung baru dia sadari kesalahan-nya yang tidak sempat memprediksi keadaan permukaan tambang.

Kilat tiba-tiba menyambar, disusul suara dahsyat menggelegar mengaburkan suara anak-anak mengaji.
Beberapa saat dia bergelantung tanpa tujuan, berusaha mempertahankan pegangannya yang terus merosot hingga suara derak kayu yang menjadi tumpuan menyadarkannya untuk segera mencari akal.
Dia ayunkan kaki kanannya untuk menendang dinding semen kemudian menghentakannya sekuat tenaga hingga membuat punggungnya menabrak sisi lain dinding dan membuatnya terpental dan mengayun tanpa tujuan yang pasti, berkali-kali. ....mungkin dibawah sana lebih baik...

..ingatkah saat bermain tangga majemuk di TK ?.. oh atau ketika menggelantung di atap rumah kaca paprika bapak saat beliau sibuk menyiram paprika warna-warninya?.. tanganku begitu kuat dan aku super! super..super... yah super monyet..
beberapa detik berlalu, kedua tangannya berusaha tetap bekerja bergantian menyusuri tiap senti tambang putih basah dan licin ini dengan dibantu kedua paha yang menghimpit tambang untuk menggerakan badannya.

Angin bertiup menyapa dan masih ditemani rintik hujan kecil yang belum juga berakhir.
kepalanya berada tepat di mulut lubang, mengintip langit sore abu-abu. Punggungnya terasa perih, kakinya terasa tertusuk tombak beracun, pundaknya terasa pegal seperti habis dihantam palu berulang kali tetapi tangan dan pahanyanya begitu kuat mencengkram dan bergerak semakin cepat menyusuri tambang.
"aku disini..."
himpitan pahanya melonggar, kaki kanannya menjulur kedepan untuk menyentuh permukaan sumur, badan dan kakinya dihentakan bersamaan dengan tangan yang melepas tambang.

"aku disini..."

Dia  menyeret pelan kaki kirinya dengan membawa satu ekor udang sungai mati yang dimasukan kedalam sebuah cangkir plastik bekas yang dia temukan, meninggalkan lubang gelap diantara rumput benggala yang berada di lembah sunyi ini, menaiki tanah liat merah yang terjal, menggamit apapun yang tertangkap tangannya untuk dijadikan pegangan namun tetap dengan cangkir berisi udangnya, terus berjalan melewati petakan kebun jagung warga, rumah pertama yang menghadap lembah dengan gongongan anjing yang akan disantap esok hari oleh pemiliknya, menyusuri gang sempit diantara rumah dan tebing kecil, menaiki tangga menuju perumahan yang mulai ramai dan benderang, berjalan terus hingga menemukan satu rumah panjang ber-cat cokelat tua.

"aku disini..."

Diraihnya gagang pintu berwarna emas yang sudah mulai kusam, cahaya lampu neon menyeruak menyilaukan mata, dia berjalan secepat yang dia mampu menuju kamar disebelah kiri dekat dengan pintu masuk utama.
Cepat-cepat dia menyembunyikan cangkir berisi udangnya dibelakang lemari baju, membuka kaos biru polos basah yang melekat pada tubuhnya, rasa nyeri menusuk seluruh tubuh tanpa meninggalkan satu sentipun pada tubuhnya.

Dia mengamati kaos biru kesayangannya yang sudah terkoyak bagian punggung dibawah lampu neon putih redup didalam kamar berantakan sisa bermain detective-detective-an tadi siang sebelum pergi mencari jamur tanpa menyadari seseorang masuk kamar dan menggamit tangan kanannya dengan umpatan yang terdengar bagai angin. Kosong...

" mama... aku tigebrus kasumur..." 

"Kenapa kamu?" suara khawatir seorang ibu yang hanya dia jawab "jatuh mah..jalan licin..kaki keseleo.. tadi ambil udang di sawah"--sambil mengeluarkan cangkir berisi udang dibelakang lemari.

Gadis 8 tahun ini berjalan pelan menuju kamar mandi, membuka pintu dan kemudian menguncinya dari dalam.
Tangannya memegang gayung plastik hijau dan siap mengayunkan gayung pada bak air besar yang terbuat dari semen  dan tidak terlihat dasarnya karena tertutup lumpur cokelat yang mengendap.
Tangannya bergetar hebat, tubuhnya seakan ditarik menuju dasar bak, siap menenggelamkannya kedalam lumpur cokelat menjijikan yang lembek dan bau.

Gadis kecil itu mundur menjauh, kemudian kembali mendekati bak dan membuka penutup selang paralon untuk membuat suara gemericik air.. kemudian dia berjongkok dan tangannya menggapai air yang mengucur dan membilas semua luka serta kotoran ditubuhnya dengan diiringi sakit yang luar biasa..
"ga mandi ah..pura-pura aja kan lagi sakit"
bukan.. bukan itu saja ketakutannya.. ketakutan lain setelah mandi usai adalah datangnya tetangga ahli pijat yang siap membuatnya berteriak dan mengeluarkan airmata serta menahannya untuk menggoreng satu udang sungai mati yang tersisa sebelum seseorang membuangnya ke tong sampah.
"udang...pake jamur..."





Tidak ada komentar:

Posting Komentar