Rabu, 16 April 2014

Kabut

Jalan licin berlubang dibingkai pepohonan rimbun diantara barisan kebun teh yang terukir indah di sisi kanan dan kiri jalan yang kulewati menambah semangat ku disiang yang bersuhu 9 derajat ini.

Mobil berwarna merah darah, yang mengantarku menembus kabut tebal khas pegunungan yang mempersempit pandangan tidak mengurungkan niatku untuk mengunjungi kota sebelah yang lebih sepi dari Bandung, kota yang selalu menjadi tempat favorite-ku di utara provinsi Jawa Barat ini.

Cuaca Bandung yang sejuk, berganti cuaca pegunungan yang dingin menusuk kemudian berganti lagi menjadi panas khas pantai utara yang gersang sudah akrab dikulit ku.

Senyuman kecil menghiasi bibirku yang terpantul dari kaca spion diiringi lantunan lagu Kings of convenience yang mengalir indah sepanjang perjalanan membuat perjalanan puluhan kilometer terasa bagai lima langkah.

Kabut adalah bagian terindah masa kecilku, menemani setiap perjalanan hingga tumbuh remaja, seperti sahabat lama yang tidak bertemu lama. Kabut inilah alasanku melakukan perjalanan singkat hari ini, hanya sekedar menyapa teman kecilku, merasakan belaian dinginnya dipipiku, mengajaku pada khayalan masa kecil yang menggebu.

Menepikan mobil merah ini adalah pilihan tepat untukku, sekedar menyapa sahabat kecil ku yang jarang kutemui lagi bagaikan sebuah kebahagiaan kecil hari ini.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar