Minggu, 13 April 2014

Dari panas ke hujan

Tidak ada yang aneh siang ini, ketika aku memutuskan untuk mengunjungi orang tuaku --pada akhirnya.
Cuaca panas kota Subang bercampur debu membuat keringat yang mengucur di kening dahi dan dada terlihat sangat menjijikkan.

Blazer putih bercorak bunga merah yang ku kenakan tidak membuat hari ini berbunga, aku adalah penumpang pertama angkutan umum Bandung-Subang ini. Satu jam menunggu sang supir nampaknya belum puas dengan tiga orang penumpang dalam kendaraannya. Maju mundur mobil ini membuatku yang tadi diam mulai bertingkah. Seperti penumpang lain yang dari 10 menit pertama sudah kesal.
Dua jam berikutnya sang supir hanya menyalakan mesin dan diam ditempat hingga akhirnya memutuskan berangkat denga awan hitam tebal memayungi.
100 meter selanjutnya adalah hujan angin besar, puluhan pohon tumbang dan kaca rumah pecah serta genteng atap rumah yang berjatuhan. Tidak ada yang aneh memang terlihatnya diawal.. memang.
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar